Daurah Ilmu Tauhid Bersama Ulama Internasional di Pondok Pesantren Fathul Hidayah

Pondok Pesantren Fathul Hidayah melaksanakan acara Daurah Ilmu Tauhid oleh ulama internasional, Syekh Dr. Fadi Fuad ‘Alamuddin dari Global University Beirut, Lebanon, beserta Uts. Ahmad Rouyani sebagai penerjemah pada Rabu, 21 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme, bertempat di aula utama Pondok Pesantren Fathul Hidayah. Berbeda dari acara yang lain, Acara ini sengaja dibawakan dengan keindahan bahasa arab, mulai dari pembawa acara sampai dengan sambutan pengasuh demi memberi motivasi kepada santri agar tumbuh keinginan mengembangkan kemampuannya dalam berbahasa.

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh dewan guru se-Yayasan Fathul Hidayah, para pengurus pesantren, serta seluruh santri dari berbagai jenjang pendidikan. Kehadiran ulama internasional dari Timur Tengah ini menjadi momen istimewa dan berharga bagi keluarga besar pesantren, mengingat pentingnya ilmu tauhid sebagai fondasi utama dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.

Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Hidayah dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. “Suatu kebanggaan bagi kami, dapat menyambut tamu untuk mendapatkan ilmu.” Beliau menyatakan. Harapannya, daurah ilmu tauhid ini dapat menjadi sarana penguatan akidah bagi para santri dan guru, sekaligus menjadi bekal penting dalam menjalankan tugas pendidikan dan dakwah di tengah masyarakat.

Dalam daurah ini, Syekh Dr. Fadi Fuad ‘Alamuddin mengawali materi-materi tauhid dengan pendekatan ilmiah. Dimulai dari penjelasan tentang ilmu, bahwasanya Ilmu itu ada 2, ilmu yang maujud (yang ada) dan ilmu yang hilang (tidak ada). Adapun yang mengklaim bahwa ilmu itu sudah hilang, maka termasuk kekufuran. Dan ilmu tersebut adalah tentang hal-hal ghaib, sedangkan yang mengetahui hal-hal ghaib hanyalah Allah SWT.

Ilmu yang maujud itu ada 2, ilmu yang jaiz dan ilmu yang diharamkan. Ilmu Jaiz sendiri yaitu ilmu yang wajib diketahui oleh setiap kita, baik perempuan maupun laki-laki dan hukum mempelajarinya ada yang fardhu kifayah dan fardhu ain.

Fardhu ain, seperti mengetahui Allah SWT dan apa-apa yang layak bagi Allah SWT.  Dan ilmu-ilmu aqidah yang lain serta ilmu yang dapat melindungi keimanan seseorang agar selamat dari kekufuran Khusunya ilmu Tauhid. Sedangkan yang fardhu kifayah, dipelajari jika kita butuh akan hal itu, dan banyak sekali contohnya. Beliau menekankan urgensi memahami ilmu ala Ahlussunah wal jama’ah  di tengah tantangan zaman modern dengan berbagai pemikiran menyimpang dan krisis nilai keimanan. Penyampaian materi yang sistematis, disertai contoh-contoh kontekstual, mempermudah para santri untuk memahami konsep tauhid secara lebih mendalam dan aplikatif.

Selanjutnya, beliau menjelaskan beberapa ayat mutasyabihat yang tafsirnya berkenaan dengan Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa arab itu luas, tidak bisa begitu saja diartikan secara tekstual, apalagi berkenaan dengan dzat Allah SWT. Sebab jika penafsiran maknanya salah, maka anggapan yang diyakini tentang Allah SWT juga akan salah.

Seseorang yang tidak mempelajari ilmu aqidah ahlussunnah wal jama’ah, terkadang saat membaca ayat, ia memaknai dengan makna yang tidak layak untuk Allah SWT, seperti menyerupakan Allah SWT dengan makhluknya, sehingga bisa berpotensi terjerumus pada kekurufan. Oleh karena itu, mempelajari aqidah adalah yang utama.sebelum mempelajari Al-Qur’an. Dan guna menjaga aqidah orang-orang awam, maka diajarkanlah pokok-pokok ajaran aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Karena Kita, sebagai ahlussunnah wal jama’ah sudah seharusnya mengatakan bahwa Allah ada tanpa berada di suatu tempat, dan tanpa berada di suatu arah.

Adapun tujuan dilaksanakannya daurah ini adalah untuk memperkokoh pemahaman tauhid yang shahih sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, meningkatkan kualitas keilmuan para pendidik dan santri, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya akidah sebagai landasan seluruh amal ibadah. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk membuka wawasan keilmuan global dengan menghadirkan ulama internasional, sehingga para santri memiliki perspektif keislaman yang luas, moderat, dan berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam.

Sebelum acara berakhir, dibuka sesi pertanyaan yang diwakili oleh Agus Ubab Mi’roji, Agus Ishom Tamimi dan Ust. Khoiri sebagai penanya. Dengan terselenggaranya daurah ilmu tauhid ini, Pondok Pesantren Fathul Hidayah menegaskan komitmennya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berusaha mencetak generasi beraqidah, berilmu, dan siap menghadapi tantangan umat di masa depan.